My Entry Monomad Challenge #404 ~ A Disaster That Leaves Wounds and Suffering
Hello Hiver in Black And White Community
My entry this time is some pictures of black and white Photos
Today, I'm sharing another photographic work with my friends in this extraordinary community. This post is also part of a black-and-white photography challenge, which I chose as a medium to capture human emotion, grief, and resilience in the face of disaster.
Hari ini saya kembali membagikan karya fotografi kepada teman-teman di komunitas luar biasa ini. Postingan ini juga menjadi bagian dari tantangan fotografi hitam putih, yang saya pilih sebagai medium untuk merekam emosi, duka, dan keteguhan manusia dalam menghadapi bencana.
Through this post, I want to share my story from my visit to a village affected by a flash flood and capture the visuals with my camera. Specifically, on Wednesday morning, November 26, 2025, the flash flood disaster occurred. Heavy rain had fallen non-stop for five days prior to the flash flood and landslide that struck residential areas in Gedumbak Village, North Aceh. This caused the river to overflow, turning into a flash flood that carried mud and logs, hitting residential areas.
Melalui postingan ini, saya ingin berbagi cerita saat saya berkunjung ke lokasi sebuah desa yang terdampak banjir bandang dan merekam visual-visual dengan kameraku. > Tepatnya, pada hari rabu pagi tanggal 26 November 2025. Peristiwa bencana banjir bandang tersebut terjadi. Hujan yang turun dengan intensitas tingga tanpa jeda selama 5 hari sebulum terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsong yang menimpa pemukiman warga di Desa Gedumbak, Aceh Utara pada saat itu. Kondisi ini menyebabkan air sungai meluap, berubah menjadi banjir bandang yang membawa material lumpur dan gelondongan kayu hingga menghantam permukiman warga.
As a result of this disaster, most of the residents' homes were swept away by the onslaught of water mixed with mud and logs carried by the flash flood, severely damaging their homes.
Dampak dari bencana tersebut, sebagian besar rumah warga tersapu akibat terjangan air yang bercampur lumpur serta gelondongan kayu yang terbawa arus banjir bandang, sehingga rumah-rumah warga rusak parah.
The flash floods have now been going on for over 30 days. However, the pain and suffering of the affected communities are still being felt. Many homes were lost in the disaster, forcing them to set up makeshift tents made of tarpaulin in evacuation centers.
Saat ini peristiwa banjir bandang tersebut sudah memasuki 30 hari lebih. Namun, luka dan penderitaan masih dirasakan oleh masyarakat terdampak. Banyak rumah warga yang hilang akibat peristiwa tersebut, sehingga mereka harus mendirikan tenda darurat dari terpal di tempat pengungsian.
Well, through these black-and-white photographs, I want to not only show the devastation but also invite us all to reflect and care. Behind each frame, there's a story of loss, resilience, and lingering hope.
Baiklah, melalui foto-foto hitam putih yang saya bagikan ini, saya tidak hanya ingin menampilkan kehancuran, tetapi juga mengajak kita semua untuk merenung dan peduli. Di balik setiap bingkai, ada cerita tentang kehilangan, ketabahan, dan harapan yang masih bertahan.
So, through this post, I also convey the importance of protecting nature and the environment, as well as preserving forests. This will prevent flash floods and landslides from occurring again, which can harm communities and become unavoidable disasters.
Nah, melalui postingan ini saya juga menyampaikan bahwa pentingnya kita menjaga alam dan lingkungan serta kelestarian hutan. Sehingga banjir bandang dan tanah longsor tidak terjadi lagi yang dapat merugikan masyarakat serta menjadi bencana yang tidak dapat kita hindarkan.

Hana aktif le lagoe @my451r?